Ø Identifikasi:
1. Judul : Mayat Yang Mengambang di
Danau
2. Nama
Pengarang : Seno Gumira Adjidarma
3. Tahun : 2011
4. Penerbit : Kompas
5. Harga : Rp. 4500,-
Ø Sinopsis
Cerita
ini dimulai dari kehidupan seorang pemburu ikan bernama Barnabas. Ia sangat
giat berburu ikan menggunakan tombak. Hasil ia memburu digunakan untuk
menghidupi anaknya Klemen. Mereka telah lama hidup hanya berdua karena sang ibu
telah meninggal sejak lama. Barnabas berburu ikan hampir setiap hari kecuali
hari Minggu, karena pada hari itu ia melaksanakan ibadah. Ia sangat berbeda
dengan nelayan lainnya karena, ia berburu ikan hanya jika langit sedang cerah.
Ia tidak seperti nelayan pada umumnya yang menangkap ikan lewat memasang
jarring, ia hanya menggunakan tombak dan kacamata selam. Sekalipun di negeri
itu banyak orang yang lebih ingin menjadi pendeta, Barnabas lebih memilih
menjadi pemburu ikan. Walaupun begitu ia menginginkan anaknya untuk menjadi
pendeta dan mengirimnya ke kota untuk belajar ilmu keagamaan. Namun negeri makmurnya
itu lambat laun berubah, ikan-ikan asing dari luar mulai mendominasi danau
tempat ia berburu. Di perkotaan terjadi kerusuhan besar-besaran.
Ø Penilaian:
1. Unsur
Intrinsik
A. Tema :
Kearifan hidup
B. Alur :
Maju
C. Penokohan : Barnabas =
Pekerja Keras, Penyayang
Klemen =
Penurut
D. Sudut
Pandang :
E. Latar
1. Latar
Tempat : Negeri Danau
Bukit berpuncak salib
2. Latar
Waktu : Pagi Hari
Siang Hari
Sore Hari
Malam Hari
3. Latar
Suasana : Mencekam
Santai
F. Amanat : Untuk mencapai sesuatu harus
dicapai dengan kerja keras
G. Gaya
Bahasa :
2. Unsur
Ekstrinsik :
A. Latar
Belakang Masyarakat : Nelayan
B. Latar
Belakang Penulis : Seno Gumira
Adjidarma adalah anak dari Prof.Dr.MSA Sastroadmijojo, seorang guru besar di
Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada. Banyak sumber mengatakan bahawa ia telat
menjadi wartawan sejak umur 19 tahun. Di sela-sela kesibukan jurnalistik ia
juga menyalurkan hobi menulis lewat menulis cerpen.
C. Nilai
– nilai yang terkandung di dalam cerpen : -Agama
-Budaya
Ø Simpulan
Penggunaan
bahasa yang beragam seharusnya tidak digunakan agar pembaca tidak sulit dalam
mengerti bacaan. Penggunaan bahasa kiasan pun harus lebih dikurangi juga karena
tidak semua orang mengerti. Cerpen ini sangat cocok untuk siapa saja yang ingin
membacanya. Sang Penulis sangat pintar dalam membuat isi bacaan yang berupa
teka teki bagi pembaca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar